You Seem Pretty Sad for a Girl So in Love, Warna Baru Olivia Rodrigo yang Tidak Terduga

Album ketiga ini punya judul yang cukup menarik karena terdengar kontradiktif: bagaimana bisa seseorang yang sedang jatuh cinta justru terlihat menyedihkan?

Dalam wawancaranya dengan Apple Music, Olivia bilang kalau album ini menjadi ruang baginya untuk menemukan sisi-sisi baru dari dirinya sendiri. Ia juga ingin menyempurnakan lagu cinta yang sedih, karena menurutnya lagu-lagu cinta terbaik selalu punya sedikit rasa rindu, takut, atau melankolis di dalamnya.

Setelah mendengarkan album ini secara penuh, rasanya seperti membaca kumpulan surat cinta yang tidak pernah dikirim. Secara lirik, album ini banyak membahas kerentanan dalam sebuah hubungan. Ada fase ketika seseorang datang dimabuk asmara, lalu perlahan masuk ke titik di mana hubungan itu mulai terasa tidak sehat. Olivia menggambarkan cinta bukan sebagai sesuatu yang selalu indah dan menyembuhkan melainkan sesuatu yang kadang membuat kita cemburu, posesif, dan overthinking, bahkan mengubah diri demi memenuhi ekspektasi orang lain. Perjalanan emosional itu juga terasa dari urutan lagunya. Di awal, kita masih mendengar seseorang yang percaya pada konsep cinta yang ideal. Namun semakin jauh album berjalan, semakin terlihat bahwa kenyataan jauh lebih rumit. Bukan karena ada pihak yang sepenuhnya salah, melainkan cinta itu sendiri ternyata tidak selalu sesuai dengan bayangan yang kita bangun.

 

Dari sisi musikal, Olivia terdengar semakin berani mengeksplorasi warna baru. Jika dua album sebelumnya lebih identik dengan pop punk yang penuh kemarahan, kali ini nuansanya jauh lebih lembut, atmosferik, dan dipenuhi pengaruh post-punk serta new wave era 80-an. Pengaruh The Cure terasa cukup kuat di beberapa bagian album, tetapi dikemas dengan identitas alternatif pop khas Olivia.

 

Salah satu lagu yang paling mencuri perhatian adalah “what’s wrong with me”, hasil kolaborasinya dengan Robert Smith, vokalis utama The Cure yang dikenal sebagai salah satu figur ikonik di dunia musik. Suara mereka berdua benar-benar menyatu dengan sangat baik. Aransemennya memang terdengar sedih, tapi tidak tenggelam dalam kesedihan yang berlebihan. Justru ada nuansa hangat dan manis yang membuat lagu ini terasa semakin menyentuh.

 

Kemudian ada “maggots for brains”, yang langsung menarik perhatian sejak intro. Gitarnya catchy, dengan riff alternatif rock yang dibalut tekstur post-punk ala The Cure. Lagu ini jadi personal favorit karena menggambarkan bagaimana seseorang bisa begitu tenggelam dalam hubungan romantis sampai kehilangan identitas dirinya sendiri. Selain itu ada “u + me= <3” yang mengingatkan kita kembali pada Paramore era awal. Mulai dari notasi vokal, dinamika lagu, sampai komposisinya yang terasa seperti penghormatan terhadap era alternatif rock dan pop-rock yang pernah populer di tahun 2000-an.

Di sisi lain ada lagu “honeybee” dan “less” menunjukkan sisi Olivia yang lebih elegan dan tenang melalui permainan piano dan aransemen yang sederhana, yang membuat perasaan yang ingin disampaikan terasa semakin jelas. Sementara “the cure” justru berkembang menjadi lagu yang megah dengan perpaduan string section dan energi alt-rock yang perlahan membangun klimaks emosionalnya.

Setelah mendengarkan album ini beberapa kali, kita semakin dibuat yakin kalau Olivia Rodrigo merupakan salah satu songwriter paling menarik di generasinya. Ia mampu mengubah pengalaman yang sangat personal menjadi sesuatu yang terasa dekat bagi banyak orang. Tentu saja, Dan Nigro juga punya peran besar dibalik semua ini, sound yang dibangun sepanjang album terasa matang, konsisten, dan penuh detail. Tidak ada lagu yang terdengar seperti tempelan. Semuanya terasa berada dalam dunia yang sama.

Ditulis Oleh: Anasya Tanlia