Sejak pertama kali mendengar info A1 kalau The Sastro akan diboyong dari Jakarta untuk tampil di Cherrypop 2025, antusiasme saya seketika meroket. Bagaimana tidak, karna setelah 20 tahun debut albumnya dirilis, Cherrypop 2025 menjadi panggung perdana mereka tampil di Yogyakarta. Jadi bisa dibilang, penampilan Sastro dkk. kali ini juga sekaligus sebagai perayaan dua dekade lahirnya “anak pertama” mereka, Vol. 1.
Sebagai remaja yang tumbuh dan besar di Salemba, band-band dari scene IKJ era 2000-an jelas menjadi teman dalam fase pencarian jati diri. Salah satunya adalah The Sastro, yang merilis satu-satunya album penuh milik mereka pada tahun 2005 silam, tepat ketika gempuran perhelatan pentas seni di Jakarta sedang deras-derasnya. Sayang tidak seperti rekan sejawat mereka yang lain, The Sastro justru kian pasif hingga akhirnya memutuskan untuk vakum beberapa tahun kemudian. Entah apa alasannya, mungkin kalah pamor dari The Upstairs dan rombongan IKJ lainnya, atau ada alasan lain yang entah apa saya juga nggak tahu. Yang jelas, sejak saat itu mereka mulai mendapat predikat “band mitos”: merchendisenya bertebaran di mana-mana, tapi nggak pernah kelihatan di atas panggung, bahkan di kandangnya sendiri, Institut Kesenian Jakarta.
Meski begitu, track-track andalan mereka seperti “Kaktus” dan “Lari 100” masih kerap mengudara di beberapa saluran radio lokal kala itu, sekaligus menjadi top of mind dalam pilihan daftar putar mp3 di tongkrongan dari hasil nge-rip CD kawan atau unduh illegal di internet (hehehe yaaah namanya jugaaa namjug fren). Ajaibnya walau hanya dengan satu album dan eksistensi yang bisa dibilang cukup singkat, nama The Sastro tetap mampu bertahan dan menjangkau lebih banyak pendengar seiring tahun berganti. Karena itu, penampilannya di Cherrypop 2025 menjadi salah satu yang ditunggu banyak orang, termasuk saya.
Jujur, awalnya saya mengira kalau panggung The Sastro tidak akan terlalu ramai, apalagi melihat rundown day 1 yang menempatkan mereka di slot yang berbarengan dengan Perunggu dan Shaggydog. Namun asaumsi saya terpatahkan. Ternyata penonton cukup ramai dan semakin membludak hingga set akhir. Selain itu, pengaturan latar panggung Yayapa stage yang kelewat sederhana juga menambah kesan raw ala gigs DIY dan mengingatkan saya pada acara musik saban minggu di kampus IKJ belasan tahun silam yang bebas didatangi siapa saja.
Malam itu The Sastro membuka set dengan “Plazamaya”, track pertama dari album Vol. 1 yang sukses membuat penonton mulai bersorak dan merangsek memenuhi area depan panggung. Saya memilih untuk tetap berada di area tengah agak ke belakang agar mendapat sound maksimal dan sekaligus bisa melihat secara langsung kegilaan orang-orang yang sudah menunggu lama penampilan The Sastro.
Selanjutnya, dua nomor dari EP Ekstasi giliran dibawakan: “Misteri” dan “Sinyal”. Walau sebagian penonton tampak asing dengan lagu-lagu tersebut, namun euforia tetap terjaga di dalam area moshpit. Sing along mulai terdengar saat “Rasuna” dimainkan, lalu pecah ketika “Kaktus” mengudara. Satu dua orang mulai crowd surfing di lagu ini, dan ramai riuh penonton yang ikut menyanyikan bait demi bait. Termasuk saya yang sepertinya paling kencang berteriak dengan nada sumbang saat penggalan lirik tentang Salemba dinyanyikan.
“Berat nafasku terikat, salemba menyimpan jiwa. Beku rintik hujan, mengurung kenangan”
Puncaknya hadir ketika intro gitar “Lari 100” menerobos keluar via tumpukan sound di kiri kanan panggung, disusul dengan rentetan bunyi drum yang seketika menyihir penonton menjadi semakin liar. Beberapa orang merayakan track opus magnum The Sastro ini dengan berlari memutar di tengah moshpit, beberapa lainnya mulai naik dan berlarian di atas panggung. Sesekali ada juga yang merebut mic dan menggantikan Sastro sebagai vokalis. Absurd. Persis gigs DIY di belakang komplek TIM era pertengahan tahun 2000-an. Mentah, chaos, dan penuh energi. Bahkan setelah “Lari 100” usai, beberapa penonton masih enggan turun dari panggung, hingga “Sejati” akhirnya dimainkan sebagai track penutup.
Secara keseluruhan, penampilan The Sastro mungkin terasa belum maksimal. Namun, itu sudah lebih dari cukup untuk mengobati kerinduan para remaja lapuk maupun pendengar baru yang telah menunggu kehadiran mereka di Jogja. Dua sekade sejak mengudara, The Sastro ternyata masih bersinar. Terus lah berlari dan menembus dekade-dekade berikutnya. Terima kasih Cherrypop, terima kasih The Sastro. Semoga bisa cepat kembali berlari di kota ini.
Ditulis oleh Joniboy

