Yogyakarta — Ada banyak cara untuk menggabungkan musik tradisional dengan musik ekstrem, tetapi Untu memilih jalur yang cukup berani. Band experimental death thrash asal Yogyakarta ini memadukan karakter extreme metal old-school dengan gamelan Jawa, menghasilkan perpaduan yang terdengar keras sekaligus tetap memberikan ruang bagi warna musik tradisional Jawa.
Menariknya, Untu bukan proyek yang baru muncul begitu saja. Band ini pertama kali terbentuk di Los Angeles pada 2015 sebagai sebuah ansambel besar yang digagas oleh komposer Sean Hayward. Setelah sebelumnya memperkenalkan diri lewat single “Batara Kala”, Untu kini melanjutkan perjalanan menuju EP Yet, I Smile. Single kedua mereka, “The Dukun’s Hand”, yang telah resmi dirilis pada 6 Agustus 2026 di berbagai digital streaming platform, bersamaan dengan video musik yang akan tayang melalui kanal YouTube Untu.
Lagu ini membawa cerita yang cukup gelap. “The Dukun’s Hand” mengangkat kisah Ahmad Suradji, seorang dukun yang membunuh 42 perempuan dalam ritual penguburan dan meyakini bahwa air liur para korbannya dapat memberinya kekuatan mistis.
Dalam video musiknya, cerita tersebut dibawa melalui pertemuan Suradji yang diperankan oleh Heru Prasetya dengan salah satu korbannya, diperankan oleh Ariska Arlinda. Karakter tersebut digambarkan sebagai seorang perempuan yang datang kepadanya dalam kondisi putus asa, berharap mendapatkan pertolongan untuk menyelamatkan seseorang yang ia cintai.
Yang membuat rilisan ini semakin menarik adalah bagaimana Untu menggarap video musiknya sebagai karya horor eksperimental yang ambisius. Jadi, visual yang ditawarkan bukan hanya pelengkap lagu, tetapi menjadi bagian penting dalam membangun atmosfer dan cerita yang ingin disampaikan.
Dari sisi musik, Untu punya daya tarik tersendiri. Gamelan Jawa tidak ditempatkan hanya sebagai ornamen untuk memberikan “sentuhan tradisional”, tetapi menjadi bagian dari karakter musik mereka. Denting dan pola gamelan justru berjalan berdampingan dengan riff gitar, karakter vokal ekstrem, dan energi death thrash yang mereka bawa.
Bagi pendengar extreme metal, perpaduan ini menawarkan sesuatu yang cukup menarik: tetap bisa menikmati agresivitas old-school extreme metal sambil menemukan warna gamelan Jawa di dalamnya. Dengan “The Dukun’s Hand”, Untu seolah ingin menunjukkan bahwa musik ekstrem dan tradisi tidak harus berdiri di dua sisi yang berbeda. Keduanya bisa bertemu, saling mengisi, bahkan menciptakan identitas baru yang terasa cukup khas.
Buat kamu yang penasaran seperti apa jadinya ketika death thrash old-school bertemu gamelan Jawa dan cerita horor, rilisan ini jelas layak masuk radar.
Ditulis oleh: Nining HD

