Menyempurnakan Farewell Party Jogjarockarta: Meliar Bersama Anthrax di Circle Pit Set Terakhir “Indians”

Tanggal 6-7 Desember 2025 merupakan gelaran terakhir panggung Jogjarockarta, festival musik cadas milik Rajawali Indonesia itu resmi berpamitan. Bukan perkara mudah, pasalnya lika-liku perjalanan selama 8 tahun itu harus berhenti dengan bijak meninggalkan kenangan dan memori masa muda para metalheads era 70s-90s yang berhasil didatangkan kembali di era ini. Mendatangkan band-band metal legendaris dunia adalah ciri khas Jogjarockarta.

 

Banyak yang menyayangkan hal ini, bahkan masih banyak pula yang menagih janji Iron Maiden untuk didatangkan di Jogjarockarta. Namun Banyak pula asumsi bahwa festival musik legendaris semacam itu sulit bertahan di era sekarang karena segmen penonton yang semakin berkurang, namun menurut saya mereka pasti punya alasan yang kuat dan keputusan bijak yang tidak mudah kenapa mereka harus berpamitan dan kita sebagai penikmat festival itu harus menghargai keputusan mereka.

 

Awalnya Jogjarockarta ingin memberikan kesan terbaik dengan mendatangkan Helloween, power metal raksasa dari Jerman sebagai persembahan terakhir, apalagi dengan dibawanya 2 vokalis yaitu Michael Kiske dan Andi Deris, tentu akan menjadi malam penutup yang sempurna dan meriah. Namun karena kendala yang tidak terduga, tepat 9 hari sebelum Jogjarockarta digelar, Helloween mengumumkan melalui akun resmi instagram mereka @heloweenofficial terkait penundaan tampil di Asia Tenggara termasuk Indonesia dikarenakan kondisi kesehatan salah satu vokalis mereka, Michael Kiske yang sedang kurang baik. Tentu berita itu sangat menggemparkan para pemegang tiket Jogjarockarta yang memang tujuan awalnya ingin menyaksikan penampilan mereka. Saya pun turut menyayangkan hal ini, mengingat kesempatan ini entah kapan akan datang lagi, mengingat umur para personel yang semakin bertambah tua. Semoga saja kondisi mereka tetap baik hingga berkesempatan untuk datang ke Indonesia sehingga saya bisa menyaksikan penampilan legendaris mereka secara langsung. 

 

Akan tetapi festival tetap berlanjut, penampilan Anthrax di hari kedua berhasil meredam kekecewaan. Salah satu big four Thrash Metal dunia asal New York itu sukses menutup acara dengan meriah, liar dan meninggalkan kenangan tak terlupakan bagi para metalheads yang hadir pada malam itu. Jogjarockarta terbukti telah memberikan persembahan terakhir dengan pengalaman dan kesan tak terlupakan bagi penggemarnya. 

Saya sengaja tidak berebut posisi terdepan tepat di depan barricade seperti yang saya lakukan biasanya ketika menonton band favorit, saya berniat untuk menyaksikan penampilan mereka dari berbagai sisi, dari depan panggung tengah, samping kanan & kiri, depan foh hingga masuk ke area circle pit untuk merasakan experience yang berbeda seperti contoh di depan foh karena ingin mendapatkan sound terbaik, di sebelah kanan – kiri karena ingin fokus pada salah satu personel, di depan panggung tengah karena ingin lebih dekat syukur-syukur bisa berinteraksi dengan para personel dan di circle pit untuk bersenang-senang bersama. Pada intinya setiap orang bisa menikmati konser dengan caranya sendiri.

 

Awalnya saya berada tepat di depan panggung dan berhasil menangkap wajah mereka satu per satu para personel dengan mata kepala saya secara gamblang yang bergantian naik ke ke panggung mulai dari Charlie Benante (drum), Scott Ian (gitar), Frank Bello (bass), Jonathan Donais (gitar), dan terakhir Joey Belladonna (vokal). Lagu A.I.R berhasil membuka dan memanaskan penonton, masih dengan crowd yang sedikit malu-malu karena sebagian besar memang tidak percaya bahwa mereka sedang menonton Anthrax di depan mata. Namun ketika tiba di lagu kedua “Got The Time” crowd mulai menggila semua berteriak dan bergerak sehingga membuat saya bergeser sedikit di sisi kiri panggung. 

 

Bagi saya yang yang lahir 13 tahun setelah Anthrax berdiri, memang sangat terpukau, bagaimana bisa mereka tetap enerjik, permainan musik mereka hampir sempurna, sang vokalis Joey Belladonna mampu mencapai high-notes tanpa beban. hampir tidak percaya bahwa mereka adalah kakek-kakek keren yang berusia sekitar 65 tahun-an, cadas!

 

Saya merasa senang berada di kiri panggung di bawah layar besar bersama para metalheads senior, mereka semua hafal lirik lagu Anthrax mulai dari lagu pertama, saya sangat respect dengan mereka. Namun rasanya kurang jika saya hanya menggerakkan kepala saja mengingat teman-teman saya yang lain sudah melebur bersama di area circle pit. Sulit sekali bagi saya yang bertubuh mungil ini untuk masuk dan meraih area circle pit, bahkan melihatnya saja tidak bisa. Alhasil saya bertahan di sisi depan kiri panggung hingga di lagu ke-12 “Antisocial”, saya memaksa dan mendesak penonton di depan saya sambil menyanyikan “You’re anti, you’re antisocial” saya sudah capek mengalah, saatnya berebut posisi lebih dekat dengan Anthrax.

 

Saya pikir N.F.L adalah lagu terakhir, karena setelah selesai menyanyikan, mereka langsung pergi meninggalkan panggung dan lightingnya meredup. Tapi.. mana mungkin!, pikir saya. Mereka tidak berpamitan. “We want more, we want more!” teriakan para penonton yang belum puas dan menginginkan Anthrax kembali ke panggung lagi. “Indians!!!!” saya pun berteriak sekaligus terkejut seketika lighting kembali menyala disusul oleh Joey Belladonna kembali dengan mengenakan ikat di kepala.Wah.. Indians benar-benar dibawakan, lagu yang sempurna untuk menjadi penutup malam itu di lapangan Kridosono. Saya harus bisa mencapai area circle pit, ini adalah acara yang harus ditutup dengan sempurna dan tidak boleh disia-siakan. Setengah lagu berjalan saya masih berusaha bergerak ke area tengah sambil sesekali headbang hingga pada akhirnya sempat terjeda dan Scott Ian sempat meminta penonton untuk membuat circle pit lebih besar dan liar lagi “War dance!”. Saya ambil kesempatan itu ketika penonton berhenti saya lari hingga akhirnya berhasil mencapai area circle pit dan ketika lagu kembali dilanjutkan, langsung saja saya membaur, berputar dan meliar di area circle pit sambil berteriak bernyanyi “Cry for the Indians, Die for the Indians!” Sungguh pengalaman yang tidak akan terlupakan, sangat seru. Bakhan circle pit itu diabadikan langsung oleh tim mereka dan dibagikan di akun instagram milik Scott Ian “I’ll be carrying this memory home with me from Indonesia” tulisnya.

 

Meskipun kecewa karena Helloween gagal menyambangi Jogjarockarta, Anthrax justru menutup farewell party ini dengan sempurna. Jogjarockarta telah memberi segalanya, sebuah pesta perpisahan yang layak dikenang dan tercatat sebagai sejarah penting. Terima kasih telah menghadirkan Anthrax. Seluruh tenaga yang terkuras terasa tidak sia-sia. Sampai jumpa, Jogjarockarta, saya akan sangat merindukannya.

Ditulis oleh: NH Dewantara