Bertahun-tahun, Pestapora adalah salah satu pioneer festival musik Indonesia untuk band-band besar maupun kecil bisa tampil. Mereka menggunakan festival musik sebagai ruang perlawanan atas berbagai aspek kehidupan; mulai dari urusan pribadi, sampai yang menyangkut hajat orang banyak.
Tapi di tahun ini, situasi bagi Pestapora sudah cukup berbeda dan fatal sekali. Fatal yang dimaksud adalah waktu acara dipersingkat karena krisis yang terjadi satu atau dua minggu belakang ini. Selain itu, ada satu isu yang membuat Pestapora terjebak dalam posisi sulit, karena beberapa penampil yang memilih untuk cabut terkait dengan kerja sama sponsorship mereka yang kontoversial. Mungkin para aktivis atau mereka yang melek dengan situasi di Papua pasti tau sponsor mana yang dimaksud. Well, it’s none other than PT Freeport Indonesia.
Freeport, salah satu perusahaan yang kerap menuai kontroversi, diundang ke Pestapora sebagai sponsor. Lalu, di mana letak persoalannya jika sebuah festival musik mendapat dukungan dana dari mereka? Oke, perlu diingat bahwa Freeport adalah perusahaan multinasional yang keberadaannya selama bertahun-tahun selalu dikaitkan dengan konflik sosial dan kerusakan lingkungan di Papua. Dan sekarang mereka hadir di balik panggung, tempat di mana para musisi seharusnya bisa menjadi perpanjangan tangan dari mereka yang tidak bisa bersuara.
Bagaimana musik bisa bicara tentang keadilan kalau panggungnya sendiri ditopang oleh kekuatan yang menjadi dalang dari ketidakadilan itu sendiri? Bagaimana seniman bisa merayakan kebenaran, kebebasan, keadilan, sementara ada Masyarakat yang tanahnya dirampas, dijarah, diambil secara paksa, hutannya digunduli, dan kehidupannya porak-poranda demi kepentingan segelintir orang?
Hal ini berakhir dengan sejumlah artis dan band yang kemudian mengundurkan diri dari Pestapora sebagai bentuk konsistensi mereka. Sebuah pernyataan bahwa musik tak boleh dibungkam oleh uang, apalagi uang yang berdarah. Aksi ini mengingatkan kita semua: panggung musik bukan sekedar pesta untuk kita bersenang-senang, berdansa diatas lampu berwarna dengan penuh keasyikan, tapi juga sebagai ruang perlawanan, ruang keberpihakan, ruang dimana kita bisa bersuara tanpa batas.
Pestapora seharusnya menjadi tempat untuk merayakan keberagaman dan solidaritas. Tapi, kerjasama dengan Freeport justru mengkhianati semangat itu. Dan di sinilah pentingnya kita kembali pada hakikat musik; sebagai suara rakyat dan suara perlawanan yang berpihak pada mereka yang terpinggirkan.
NO MUSIC ON A DEAD PLANET
NO MUSIC ON STOLEN LAND
NO MUSIC WITHOUT SOLIDARITY WITH PAPUA.
Ditulis oleh Achmad Bintang Sulaiman

