Namanya juga Festival Kebudayaan Yogyakarta. Budaya = culture = kalcer.
Hari ini kami datang ke press conference FKY 2026 yang digelar di Unit 1 Pemda Sleman. Agendanya sebenarnya cukup familiar: presentasi, ngobrol soal tema tahun ini, lalu sesi tanya jawab.
Tapi ada satu hal yang lumayan menarik. Begitu press conference selesai, kami nggak langsung balik. Dari gedung Pemda, kami malah diajak menyeberang ke tempat yang jaraknya cuma beberapa langkah dari sana.
Di seberang jalan itu ada Lapangan Beran. Tempat inilah yang mulai 13 September nanti bakal jadi rumah FKY 2026 selama seminggu penuh.
Tahun ini FKY datang dengan tema Bahasa dan tajuk “AKSARA”. Kalau dengar kata bahasa, mungkin yang kepikiran pertama adalah tulisan, percakapan, atau aksara Jawa. Tapi FKY mencoba melihatnya lebih luas. Bahasa dianggap sebagai bagian dari cara kita menyimpan cerita, pengetahuan, identitas, sampai melihat perubahan yang terjadi di sekitar kita.
Setelah kami sampai di lapangan, ada TasakuRUN yang jadi bagian dari rangkaian pembuka hari ini.
Lima ubarampe dibawa mengelilingi lapangan. Yang ikut juga cukup beragam: ada seniman, panitia, media, sampai warga sekitar. Bentuknya memang jogging bersama, tapi sebenarnya ada simbol yang dibawa di dalamnya, lima ubarampe tersebut mewakili kolaborasi lima kabupaten/kota di DIY.
Setelah keliling lapangan, acara ditutup dengan doa bersama, pemasangan bambu pertama, dan potong tumpeng selayaknya tasyakuran tapi ala FKY.
FKY PINDAH KE SLEMAN, TAPI BUKAN BERARTI JADI FKY SLEMAN
Setelah tahun lalu berlangsung di Gunungkidul, tahun ini FKY pindah ke Sleman. Tapi penyelenggara menegaskan kalau formatnya bukan lagi soal “FKY punya siapa”.
Lima kabupaten/kota di DIY akan masuk dalam satu rangkaian yang sama. Masing-masing juga akan punya hari khusus untuk membawa seni, komunitas, dan potensi daerahnya.
Tema “AKSARA” sendiri merupakan bagian dari perjalanan tema FKY sejak 2023. Dimulai dari Pangan, lalu Benda, Adat Istiadat, sekarang Bahasa, dan nantinya akan ditutup dengan Ritual pada 2027.
Kalau dipikir-pikir, lima tema ini memang seperti potongan-potongan kecil untuk melihat kebudayaan dari berbagai sisi.
NANTI JANGAN CUMA CARI PANGGUNG
Salah satu hal yang menarik dari FKY 2026 justru ada di hal-hal yang biasanya kita anggap cuma “bagian venue”.
Tahun ini ada sembilan seniman yang ikut merancang berbagai elemen festival lewat pendekatan seni terapan. Gerbang, panggung, signage, dekorasi, sampai infrastruktur dibuat dengan konsep bahwa benda-benda tersebut juga bisa menjadi karya.
Jadi nanti kalau datang ke FKY dan melihat papan petunjuk, misalnya, jangan heran kalau desainnya bukan sekadar papan petunjuk.
Hal yang sama juga berlaku untuk beberapa elemen lain di venue.
Seni di FKY tahun ini memang sengaja dibuat supaya nggak harus dicari di satu ruang tertentu.
KALAU LAPAR, TENANG
Berbagai konsep pasar, hadir di sini.
Ada Pasar Pangkon yang akan hadir selama tujuh hari. Kemudian Pasar Tematik yang isinya akan berganti setiap hari berdasarkan giliran kabupaten/kota maupun provinsi.
Yang paling menarik mungkin Pasar Wigyan.
Konsepnya adalah pasar berjalan dengan empat instalasi yang dibuat oleh seniman. Instalasi tersebut nantinya dijalankan oleh penari, jadi aktivitas jual-belinya sekaligus menjadi pertunjukan.
Di luar area lapangan, ada juga Pasar Saptawara, yang berisi tenant UMKM yang memang sudah beraktivitas di sekitar Lapangan Beran.
Jadi kalau datang ke FKY nanti, pilihan aktivitasnya gak cuma nonton, tapi bisa muter-muter, lihat karya seni, jajan, ketemu komunitas, atau pun hal-hal menarik yang bisa mencuri perhatian.
SENIMAN NGGAK SENDIRIAN
Program pertunjukannya juga dibuat dengan pola yang kurang lebih sama.
Seniman akan berkolaborasi dengan komunitas dan warga dari lima wilayah DIY. Ada pembuatan wayang kancil, pertunjukan tari, sampai klinik musik interaktif.
Untuk panggung utamanya ada Panggung Taling dan Panggung Tarung, dengan karya yang akan berganti setiap malam.
Sementara Pawai Budaya bakal melibatkan lebih dari 650 penari dari seluruh DIY.
Pawainya sendiri nggak dibuat sebagai arak-arakan biasa. Formatnya lebih ke pertunjukan kolosal dengan koreografi seremonial.
TERUS, BISA NGAPAIN AJA?
Selain agenda yang berhubungan langsung dengan seni dan pertunjukan, FKY juga menyiapkan beberapa ruang yang lebih santai.
Ada Ayo Moco, Ayo Sinau, dan Ayo Dolanan. Namanya sudah cukup menjelaskan: ada ruang baca, workshop, sampai area bermain dengan permainan tradisional.
Ada juga pemeriksaan kesehatan gratis untuk pelaku seni dan budaya, mobil perpustakaan keliling dari DPAD DIY, dan pengelolaan sampah yang melibatkan komunitas pengolah limbah lokal.
Buat yang datang naik sepeda, ada kabar baik. Area dalam festival dibuat ramah sepeda, dan sepeda menjadi satu-satunya moda transportasi yang diperbolehkan masuk ke dalam area festival.
Kebudayaan nggak selalu harus hadir dalam bentuk sesuatu yang serius. Kadang ia muncul dari apa yang kita makan, cara kita ngobrol, permainan yang kita kenal sejak kecil, karya yang kita lihat, sampai orang-orang yang kita temui di satu tempat.
Itu juga yang ingin dibawa FKY lewat “AKSARA” tahun ini.
Jadi, kalau budaya = culture dan culture = kalcer, ya…
Jangan ngaku kalcer kalau belum ke FKY.
FKY 2026 “AKSARA”
13–19 September 2026
Lapangan Beran, Sleman, Yogyakarta.
Ditulis oleh: Anasya Tanlia

