Di tengah perputaran siklus subgenre yang tidak pernah berhenti, Midwest emo akhirnya menemukan jalan kebangkitannya yang tak terduga di tahun 2025. Saat dulu hanya menjadi soundtrack bagi sebagian remaja di era MySpace dan pertunjukan musik bawah tanah Amerika, kini genre ini menemukan pendengarnya di seluruh dunia—mulai dari jantung Amerika Serikat hingga jalanan kota Yogyakarta, Indonesia. Salah satu proyek band paling berpengaruh namun berumur pendek dalam genre ini, Merchant Ships, kini kembali dibicarakan bukan karena reuni atau promosi industri, melainkan secara organik—melalui nostalgia dan basis penggemar akar rumput.
Dalam sebuah wawancara panjang yang direkam, salah satu pendiri Merchant Ships, Nicholas, berbicara terbuka tentang asal-usul band, pengaruh musikal mereka, dan bagaimana band ini berkembang menjadi proyek lain yang tak kalah dicintai: Midwest Pen Pals. Semuanya dimulai ketika Nicholas bertemu dengan Michael—bassis Merchant Ships—saat mereka masih duduk di bangku sekolah menengah. Keduanya memiliki ketertarikan besar pada musik, dengan Michael yang kala itu sudah lebih mahir memainkan gitar dibanding Nicholas.
Dari awal yang sederhana itu, perjalanan mereka lalu mengarah ke South Bend, Indiana, tempat sebuah venue DIY yang dijalankan oleh musisi lokal bernama Jack menjadi landasan peluncuran bagi Merchant Ships. “Band Jack, We Are the Colossus, mengubah hidup saya,” ujar Nicholas. “Saya bahkan tidak tahu musik seperti itu ada.” Melalui skena itulah ia bertemu Jack dan Cameron—dua musisi yang kemudian menjadi inti dari eksistensi singkat tapi berdampak dari band ini, bersama dengan Dwayne alias DJ sebagai drummer.
Merchant Ships terbentuk dari luapan kreativitas, menyuguhkan nada-nada emosional yang menyentuh hati banyak pendengar. Namun sayangnya, band ini hanya bertahan sembilan bulan sebelum akhirnya bubar karena perbedaan arah. “Saya bertemu Garrett, seorang drummer yang luar biasa, dan saya berpikir: saya harus membuat sesuatu bersama orang ini,” kata Nicholas. Pertemuan itu menjadi titik awal lahirnya Midwest Pen Pals, proyek baru dengan nuansa yang lebih padat dan tajam.
Ironisnya, meskipun Midwest Pen Pals kini memiliki basis penggemar yang semakin besar, masa hidup band ini sama singkatnya dengan awal kemunculannya. “Saya masih tidak tahu kenapa kami bubar,” akunya. “Tapi akhirnya kami kembali ke Merchant Ships.” Para anggota band kerap menyebut Lion of the North, Snowing, dan Kidcrash sebagai pengaruh utama mereka. Namun yang paling berkesan bagi para pendengar adalah kejujuran emosional mereka—terutama dalam lagu seperti Something That Matters, lagu penutup dalam album For Cameron yang didedikasikan untuk teman mereka.
Namun momen paling mengejutkan datang dari lagu yang sama sekali tidak direncanakan: Sleep Patterns. “Lagu itu sebenarnya tidak ada dalam rencana,” jelas Nicholas. “Jack hanya membaca salah satu cerita Cameron di atas petikan gitar yang kami buat hari itu. Dan tiba-tiba, lagu itu menjadi karya kami yang paling banyak diputar.” Cerita Cameron, yang menjadi tulang punggung lirik lagu itu, kini menjadi bagian dari sejarah band. Menurut Nicholas, Cameron adalah sosok yang ramah dan terbuka, bahkan mungkin bersedia diwawancarai jika diminta.
Setelah melewati berbagai formasi band seperti Park Jefferson dan Chef Goldblum, Nicholas memulai proyek solonya: Jingwei. Awalnya proyek ini hanyalah eksperimen untuk belajar bermain drum dan merekam lagu secara mandiri tanpa bantuan siapa pun. “Saya hanya ingin belajar main drum dan tidak bergantung pada siapa pun,” katanya. Namun kini, Jingwei telah berkembang menjadi sebuah band penuh, bahkan mereka telah merilis album pertama mereka yang berjudul “Songs Only We Know”. Nicholas menyebut bahwa ini adalah keterlibatannya yang paling serius dalam bermusik selama beberapa tahun terakhir. “Ini pertama kalinya saya punya band lagi. Ini bakal seru,” ujarnya.
Yang paling mengejutkan dalam kisah ini adalah lokasi wawancara itu sendiri: dari sebuah komputer di Yogyakarta, Indonesia. Pewawancara—seorang pemuda berusia 18 tahun—menyatakan bahwa Merchant Ships dan Midwest Pen Pals memiliki basis penggemar yang cukup besar di negaranya. “Ada banyak band emo di sini. Ada yang sudah besar, ada juga yang baru mulai,” katanya. Nicholas menyambut pernyataan itu dengan semangat. “Kita butuh anak-anak muda itu untuk terus menjaga pesta ini tetap hidup,” balasnya.
Kebangkitan Midwest emo bukanlah hasil rencana pemasaran atau strategi comeback. Itu terjadi karena orang-orang masih peduli—karena lirik yang jujur, nuansa mentah, dan semangat DIY masih terasa relevan. Dan selama masih ada anak-anak dengan gitar dan perasaan yang dalam, warisan band seperti Merchant Ships dan Midwest Pen Pals akan terus bertahan. “Teruslah menciptakan,” pesan Nicholas. “Meskipun kamu pikir hasilnya tidak bagus—kamu tidak akan pernah tahu apa yang bisa terjadi.”
Penulis: Achmad Bintang Sulaiman

