Dream on roller coaster, itulah yang terlintas dipikiran saya ketika selesai mendengarkan keseluruhan album penuh terbaru dari The Carolines dengan judul Mediocre Twenties in a Not-So-Metropolitan Setting. Album yang menghadirkan kesan campur aduk. beat cepat namun kadang lambat pada beberapa lagu dibungkus dengan suara gema dari reverb khas dream pop ditambah lirik yang hampir seluruhnya menceritakan kesedihan, menjadikan album ini salah satu rilisan yang patut disimak pada penghujung tahun 2025 ini.
Berisi sebelas track dengan “kamu adalah sebagian dari kota ini, segala musim yang pernah kita lalui” sebagai pembuka, kita langsung disuguhkan dengan lima setengah menit cerita gelap berirama cepat dengan vokal lirih yang konstan seolah sedang berada di roller coaster dengan pikiran yang entah kemana. Fokus saya tertuju kepada sebuah judul di album ini “‘verba volant, scripta manent’ is a great big bullshit.” Lagu ini biasa saja, sederhana namun terdengar cukup personal dan memang beginilah seharusnya kesedihan dirayakan. Sederhana, tapi cukup untuk membuat kita masuk menyelami pikiran sendiri. The Carolines menyeret kita ke dalam kesedihan tentang kehilangan dan kekhawatiran akan seseorang setidaknya dalam sembilan lagu di album ini, jadi saya sarankan untuk menyiapkan banyak tissue selagi mendengarkan album ini. Namun di dua lagu terakhir saya rasa cukup untuk membilas kesedihan pada sembilan track sebelumnya walaupun tetap bercerita tentang kekhawatiran namun fokus yang dituju lebih mengarah kepada problematika usia 20an dengan kemasan yang lebih menyenangkan lewat beat cepat dan vokal bersaut sehingga dua lagu ini justru saya maknai sebagai anthem menuju kedewasaan dibanding renungan kesedihan.
Sebenarnya dibalik kerumitan akibat panjangnya suku kata pada judul lagu dan album ini, terkandung sebuah kesederhanaan. The Carolines mengajak kita untuk diam sejenak bersedih dan khawatir lalu menutupnya dengan marah namun bergairah untuk melanjutkan kehidupan walaupun dengan sedikit gerutu. Bagi saya yang hampir memasuki usia kepala tiga, Indra (gitar), Reka (vokal), Nemos (gitar), Gala (drum), dan Baiq (bass) seolah mengajak saya kembali ke masa awal 20an dimana kesedihan, kekhawatiran, dan kemarahan menjadi bahan bakar untuk terus menjalani kehidupan. Terakhir, saya ucapkan selamat untuk The Carolines dan tulisan ini saya tutup dengan mengutip penggalan lirik dari lagu favorit saya di album ini: “imagine how life should be without you, I feel sorrow.”
Ditulis oleh: Aditya Azka

