I LOVE HARDCORE BUT I HATE THIS SCENE: MENIKMATI HARDCORE DENGAN TIDAK EKSPRESIF

“Bangun…bangun, sarapan” sore itu dibuka dengan masuknya sesosok manusia berkaos putih, mencoba membangunkan saya dari rutinitas tidur pagi yang lumrah dilakukan mahasiswa baru. Saya biasanya memulai aktifitas dari sore hari, kemudian terus berlanjut sampai fajar jika pagi atau sore harinya tidak ada kelas. Sore hari biasanya dimulai dengan sarapan, walaupun secara waktu rasanya tidak relevan dan mungkin lebih tepat menyebutnya sebagai makan malam yang terlalu dini. Kegiatan berlanjut dengan mengerjakan pekerjaan kuliah, bermain gitar, atau sekedar bicara kehidupan dengan intens. Bahkan saya ingat pernah berbincang soal kehidupan dari jam sepuluh malam sampai sepuluh pagi esok harinya.

Kalau saya tidak salah ingat, waktu itu sekitar awal tahun 2017 kawan saya Andi yang lebih suka dipanggil Cyril duduk didepan meja komputer yang di depannya ada laptop dalam kondisi menyala. Sempat hening sekitar 15 menit, saya yang dalam posisi setengah sadar tiba-tiba terbangun karena dentuman suara kencang nan berisik yang menurut saya waktu itu sangat mengganggu karena riff gitar yang sembrono ditabrak dengan kualitas rekaman yang amburadul dan memang speaker yang saya punya waktu itu kurang mumpuni secara kualitas. Lucunya meskipun terganggu saya tidak meminta lagu itu dimatikan karena dalam posisi mengantuk dan merasa enggan untuk beranjak dari kasur, jadi saya memutuskan untuk membiarkan Cyril asik dengan apa yang sedang diputarnya. Saya berusaha keras untuk mengabaikan semua suara yang masuk dan mencari cara sekeras mungkin untuk mencoba tidur kembali sampai pada satu track  yang akhirnya membuat saya fokus mendengarkan.

“What happened to you?

You’re not the same

Something in your head

Made a violent change

It’s in your head

It’s in your head

It’s in your head

Filler”

Minor threat – Filler

Saya bergegas duduk kemudian fokus mendengarkan dan memperhatikan laptop yang menyala kala itu, kemudian bertanya pada Cyril “lagu opo ki? kok lirik e wangun” setelah Cyril menjelaskan barulah saya tahu bahwa itu adalah sebuah lagu dari Minor Threat yang berjudul “filler”. Percakapan tidak berhenti disitu karena kemudian saya penasaran dan memutuskan untuk berdiskusi dengan agak serius perihal Minor Threat, hardcore punk, dan skenanya. Pembicaraan semakin intens diiringi lagu-lagu hardcore punk dari band-band lain mulai dari 7Seconds, Youth of Today, hingga Gorilla Biscuits, sampai tanpa terasa waktu berputar menuju jam dua belas malam dalam keadaan saya belum makan apapun dari sore hari. Alhasil pembicaraan ditutup dengan kami pergi keluar menyambangi burjo didekat kos yang memang sudah menjadi langganan kami tiap harinya.

Waktu berjalan seperti biasa, saya yang waktu itu hanya mengerti sedikit perihal skena hardcore punk, akhirnya saya hanya menganggap itu sebagai suatu pengetahuan yang tidak terlalu penting untuk diketahui lebih dalam. Namun Cyril melihat sesuatu yang lain, kawan saya ini adalah tipikal manusia licik yang dengan sadar akan menyeret orang lain kedalam dunianya, tapi dengan cara yang cukup unik, tanpa paksaan dan tanpa berdebat dia terus memutar playlist hardcore kesukaannya supaya saya tersusupi secara tidak sadar. Misinya berhasil, saya lantas kembali masuk untuk menyelami serta belajar memahami musik dan  pesan yang coba disampaikan band-band dalam playlist itu. Hari berganti hari di tahun 2017-2018 saya habiskan untuk mendengarkan berbagai macam aliran hardcore mulai dari old school, new school, sampai youth crew yang mana di kemudian hari saya kagumi prinsip-prinsipnya walaupun saya belum berani untuk menasbihkan diri sebagai seorang youth crew karena masih kecanduan nikotin. Dalam kurun waktu dua tahun ini juga saya akhirnya menemukan alasan kenapa saya menyukai hardcore ketika dengan sengaja mendengarkan screaming at the wall dari Minor threat.

 

“You better reinforce those walls

Until you don’t have no room to stand

‘Cause someday the bricks are gonna fall

Someday I’m gonna use my hands” 

 

Minor threat – Screaming at the wall

Sepertinya memang sudah jalannya, saya yang mahasiswa tahun kedua kala itu memutuskan untuk pindah dari kampus teknik menuju ke ilmu komunikasi. Ceritanya dengan misi mulia untuk menjadi jurnalis yang akan mengabarkan segala bentuk ketidakadilan di dunia. Meskipun pada akhirnya saya tidak jadi jurnalis, pikiran untuk itu muncul setelah mendengarkan album First Two Seven Inches dari Minor threat. Album itu memang magis untuk saya karena lagu demi lagu yang berputar seolah menuntut untuk disuarakan dan diteruskan, walaupun kebanyakan lagu disana isinya tentang kemarahan anak muda tapi justru itulah poin utamanya. Marah adalah sebuah sifat yang kerap dikaitkan dengan banyak hal buruk, namun Minor Threat membuktikan bahwa kemarahan justru dapat menjadi bahan bakar perubahan paling tidak untuk diri saya sendiri. 

Minor Threat hanyalah pintu dimana saya berkenalan lalu berjabat tangan dan masuk kedalam dunia penuh teriakan dan ledakan itu. Namun hari dimana saya secara yakin bahwa memilih hardcore sebagai bagian dari hidup adalah ketika saya berumur 23 tahun. Sebagai seorang medioker yang sedari dulu hidup biasa saja, tentu ada masa dimana saya merasa di titik terendah, walaupun di kemudian hari saya sadar bahwa titik terendah manusia ternyata bisa datang lebih dari sekali. Waktu itu tampaknya tengah malam saat semua masalah sedang berkumpul dalam kepala dan minta diselesaikan secepatnya, tiba-tiba saya tergerak untuk mendengarkan kembali sebuah album yang berjudul The things we carry dari Have heart. Album itu berputar lagu demi lagu sampai ke lagu terakhir “Watch me rise” dan boom seketika air mata saya jatuh dan sisa malam pun dihabiskan dengan menangis sambil diiringi teriakan dari lagu yang sedang berputar. Sebenarnya hal itu agak aneh setidaknya bagi saya sendiri karena biasanya orang mencari ketenangan lewat suara-suara indah dengan frekuensi yang menenangkan tapi uniknya saya justru merasa sangat lepas kala itu. Tidak dapat dipungkiri kalau lirik di lagu itu juga jadi trigger karena pada saat yang sama saya merasa bahwa ada orang lain yang ikut menemani dan mengamini apa yang saya rasakan serta mewajarkan hal tersebut untuk dilakukan. Kebanyakan laki-laki cenderung menyimpan tangisnya, ditambah saya sebagai pendengar hardcore yang lekat dengan stigma tough guy membuat malam itu rasanya jadi agak absurd, Tapi kemudian saya berkesimpulan bahwa musik ini dapat dinikmati oleh siapapun dalam kondisi apapun sehingga narasi hardcore untuk tough guy menjadi tidak relevan untuk saya. Lagu ini jelas sangat melankolis, meskipun dibungkus dengan sound yang kasar nan agresif namun faktor-faktor tersebut tidak lantas membuat lagu ini kehilangan pesannya. Hidup memang tidak mudah namun setidaknya hiduplah dengan bebas dan berumur panjang sampai nanti saatnya kita bersinar, begitulah kurang lebih penggalan lirik yang membuat saya sadar untuk tidak menjadi “slave of depression like they said on “watch me rise”.

 

“So I say to the slaves of depression: carry on and sing the sweet redeeming song about living this life free and long

It goes like this:

Watch me, watch me, watch me rise

Watch me, watch me, watch me rise

Watch me, watch me, watch me rise

Watch me, watch me, watch me rise

For miles and miles”

 

Have heart – Watch me rise

Setelah malam itu saya memutuskan apapun yang saya dengarkan atau saat perasaan semakin tidak karuan saya akan kembali ke hardcore, mendengarkan mereka, kemudian bersedih sampai akhirnya siap bertarung lagi. Saya mencoba mencintai hardcore tanpa meromantisasinya seperti kata Cholil Mahmud dalam wawancaranya dengan Gigsplay, romantisme itu selalu membutakan sehingga saya berusaha untuk menjaga objektivitas dalam perasaan saya melalui objektivitas terhadap musik dan semangat, bukan tokohnya. Lagi-lagi menurut Cholil Mahmud, manusia bisa berubah dan itu wajar jadi daripada terus mengikuti perubahan orang lain saya merasa lebih baik berubah untuk diri sendiri, karena pada dasarnya moral adalah sesuatu yang personal sehingga mengikuti moral orang lain yang kemungkinan akan bertentangan dengan diri saya sendiri tampaknya akan melelahkan. 

Sayangnya keberlangsungan skena hardcore sulit lepas dari romantisme dan doktrin bahwa hardcore harus violence dance, tough guy, dan tidak cengeng, yang menurut saya tidak relevan dengan kepribadian serta karakter diri dan memilih untuk menikmati hardcore dengan tidak ekspresif karena pada dasarnya saya benci kekerasan. Silahkan menikmati hardcore dengan kemauan dan cara masing-masing, mau violence dance boleh, atau mau datang dan hanya mendengarkan musiknya juga tidak apa-apa. Jadi mari kita sudahi perdebatan dan pelabelan tentang bagaimana hardcore seharusnya dinikmati karena setiap orang berhak hardcore dengan caranya sendiri. Terakhir mengutip pernyataan Andika Surya (Collapese/Alice) saat pertunjukan kembalinya Collapse sebelum membawakan “Toxic Boombox” di Bandung “I Love Hardcore But I Hate This Scene.”

Ditulis oleh: Azka A.