Rock In Solo 2025: Dua Dekade Perjalanan Festival Musik Keras Menaklukan Tantangan Untuk Melanjutkan Sejarah Yang Belum Selesai Ditulis

Gelaran tahunan Rock in Solo Festival 2025 terbilang sukses dilaksanakan pada tanggal 22-23 November 2025. Tahun ini merupakan edisi ke 20 festival ini digelar dan menjadi sebuah tonggak yang hanya bisa dicapai berkat kerja keras tanpa henti dan dukungan dari komunitas musik keras yang tak pernah padam. Dengan Mayhem menjadi salah satu headliner bersama 36 penampil lain, Rock In Solo mampu menghadirkan puluhan ribu penonton dari dalam maupun luar negeri.

 

Saya sendiri merupakan pengunjung setia Rock In Solo sejak tahun 2022, dan selalu hadir entah siapapun headlinernya, karena saya sangat tertarik dengan festivalnya. Menurut saya Rock In Solo konsisten menjadi sebuah festival musik keras dan merupakan ajang berkumpulnya para metalheads di Indonesia, orang menyebutnya hari lebaran para metalheads. Hingga saat ini Rock in Solo hampir tidak pernah mengecewakan saya karena selalu menyajikan gelaran festival terbaik setiap tahunnya.

Tahun ini sedikit berbeda, saya hadir tidak hanya sebagai penonton namun diberi kesempatan untuk meliput dan mewawancarai founder Rock In Solo yaitu Stephanus Adjie, yang juga merupakan vokalis Down For Life, band metal kebanggan Solo. Kesempatan ini menjadi pengalaman berharga: menikmati festival, sekaligus mempelajari bagaimana perayaan besar musik keras dapat terselenggara dengan begitu rapi.

 

Di sela-sela jadwal para penampil di hari kedua, sekitar 3 jam sebelum Down For Life tampil, saya menemui Stephanus Adjie di area backstage tepatnya di Green Room, kami berbincang-bincang sedikit mengenai festival Rock in Solo yang tahun ini memang terasa sedikit berbeda. Mulai dari map venunya yang diperluas, regulasi alur penukaran tiket yang lancar, hanya scan barcode bagi pemegang e-tiket, tersedianya banyak booth makanan dan minuman yang terasa jauh lebih matang dan nyaman dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Semua terasa sangat diperhatikan.

Hasil Wawancara Eksklusif dengan Stephanus Adjie

1.  Apa “ruh” kuratorial Rock in Solo tahun ini? Apakah ada narasi atau konteks sosial yang ingin dibawa, bukan sekadar daftar band?

“Rock In Solo bukan hanya sekedar festival musik keras namun juga menjadi wadah untuk bersuara dimana terjadi ketidakadilan serta manipulasi konstitusi yang terjadi di dalam negeri, Rock In Solo bisa dijadikan tempat untuk menyuarakan aspirasi tanpa harus menggunakan cara seperti demonstrasi ricuh yang merusak fasilitas umum dan sebagainya. Line up dipilih sesuai dengan kuratorial team dan beberapa band dipilih karena karya mereka menyuarakan hal itu.”

 

2. Perubahan teknis apa yang dilakukan tahun ini untuk menghindari isu klasik festival Indonesia, seperti delay rundown, sound system tidak konsisten, atau pergantian panggung yang memakan waktu lama?

“Sejak 2012 Rock in Solo konsisten memberikan yg terbaik, area venue untuk tahun ini dipeluas, memilih vendor terbaik sesuai kebutuhan, Run Down tepat waktu, menyediakan 2 panggung utama bersebelahan yaitu Rajamala Stages, tim yang memadai cepat tanggap untuk pergantian line up yang tampil, menerapkan peraturan tegas dan disiplin waktu sebagai kunci untuk kenyamanan bersama.”

 

3. Bagaimana standar hospitality band internasional diterapkan tanpa mengorbankan kenyamanan band lokal?

“Kami menganggap semua band itu sama sebagai penampil di Festival Rock in Solo, kami menyediakan green room untuk berkumpul, makan, interview, potong rambut, dsb. Kami tetap menyediakan tenda masing-masing hanya untuk menyimpan barang saja. Kami menyediakan prasmanan bukan nasi kotak sebagai upaya mengurangi sampah untuk kenyamanan bersama, dan adil bukan berarti sama tapi sesuai kebutuhan. Karena kebanyakan band luar itu anggotanya vegetarian jadi disesuaikan dengan kebutuhan para anggota band nya.”

 

4. ⁠Dalam dunia festival yang serba mahal, bagaimana Rock in Solo memastikan harga tiket tetap terjangkau tanpa menurunkan kualitas produksi?

“Kami ⁠berusaha memberikan yg terbaik, kami tetap mendengarkan dan mempertimbangkan permintaan para metalheads, namun kami berusaha menghadirkan band sesuai dengan anggaran manajemen dan segala pertimbangan serta menyesuaikan harga tiket dengar UMR solo dan sekitarnya agar festival ini tetap bisa dinikmati terutama oleh warga Solo & sekitarnya”

 

5. ⁠Bagaimana Rock in Solo menghadapi isu keamanan yang sering terjadi di festival besar seperti overcapacity, crowd crush, dan pelecehan seksual? Apakah ada skema “Safe Squad”

“Tahun ini kami menyediakan venue yg lebih luas untuk bergerak, kenyamanan penonton sangat penting, termasuk alur masuk, map venue yang tidak membingungkan serta menyediakan terpal untuk menutupi becek dan lumpur, memperbanyak tempat sampah, dan juga dari tahun-tahun sebelumnya kami membentuk tim Crowd Brigade yang cepat tanggap sesuai SOP kami untuk keamanan crowd dan segala hal yang terjadi di area pit.”

 

6. ⁠Apa blueprint Rock in Solo untuk 5–10 tahun ke depan? 

“Rock In Solo ingin selalu menyajikan festival musik yang terbaik setiap tahunnya sesuai dengan standar dari tim Rock In Solo, setiap tahunnya pasti akan ada improvement dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya karena kami menerima masukan untuk membuat festival ini menjadi semakin baik dan nyaman bagi semuanya. Jika kita lihat mungkin 10 tahun lalu RIS memulai perjalanan dengan panggung sederhana, tetapi itu merupakan kualitas yang dapat disajikan sesuai dengan kapasitas produksi dari tim kami pada saat itu, kemudian pada tahun-tahun setelahnya dengan proses dan kerja keras tim maka kualitas Rock In Solo dapat semakin kami tingkatkan hingga seperti saat ini. Dan untuk 5-10 tahun mendatang kami berharap bahwa Rock In Solo akan tetap berlanjut dengan dukungan dari komunitas musik keras serta masyarakat dan kami akan berusaha meningkatkan kualitas di tahun-tahun mendatang.”

Dari hasil wawancara dengan narasumber selama kurang lebih 16 menit, cukup membuktikan bahwa festival Rock in Solo merupakan warisan budaya dan festival musik keras terbaik di dalam negeri saat ini menurut versi saya. Meskipun Rock in Solo tidak luput dari beberapa kekurangan diluar kendali maupun yang belum bisa disajikan kepada audience dan para vendor, tetapi mereka selalu berusaha memberikan yang terbaik, mau belajar dan menerima masukan serta meningkatkan kualitas dan fasilitas yang diperlukan karena Rock in Solo ingin mengajak semua yang terlibat menjadi bagian dari sejarah yang belum selesai ditulis.

 Written by: NH Dewantara