Sound of sleeping medicine, mungkin itu analogi yang pas untuk menggambarkan karya-karya Seaside. Setelah cukup lama hiatus sejak terakhir kali merilis album pertama Undone pada tahun 2013, Seaside kini kembali hadir dan tetap memukau lewat album terbaru mereka, Same Old/Same New. Sebagai penikmat musik alternatif, kabar kembalinya Seaside cukup exciting, apalagi dengan line-up terbaru mereka yang banyak diisi wajah baru yang segar.
Ketika album ini dirilis pada 31 Juli lalu, jujur saja saya, yang sudah cukup lama tidak mendengarkan rilisan musik lokal, langsung dibuat penasaran. Seaside berhasil merayu saya untuk kembali, dan hasilnya luar biasa. Dream pop berbumbu shoegaze mereka diracik menjadi sebuah hidangan mewah oleh Nabila Hanina (vocals/guitar), Andi “Hans” Sabarudin (vocals/guitar), Safira Anjani (vocals/synth), dan Adi Sushantiyo (bass). Untuk mereka saya ucapkan terima kasih, karena karya yang mereka hadirkan benar-benar luar biasa.
Album penuh berisi lima belas track ini dibuka dengan “Traveling to South”, sebuah intro bernuansa dreamy 90-an yang dikemas secara modern. Kegemaran saya terhadap musik alternatif sebenarnya terletak pada bunyi-bunyi asing yang sering disuguhkan band-band semacam itu. Namun, karena sebelumnya sudah pernah mendengarkan Seaside dan juga Andi Hans lewat beberapa proyek musiknya, saya tidak terlalu berharap akan mendapatkan sesuatu yang baru. Kenyataannya, semua yang disuguhkan Seaside melebihi bayangan saya.
Melalui album ini saya seolah mendengar Slowdive bercampur Pia Fraus dan Sweet Trip yang diramu secara bersamaan. Seaside berhasil menyatukan semuanya, mulai dari kombinasi vokal, progresi, hingga bunyi-bunyian asing yang terus membuat saya kagum.
Lucunya, di antara semua kemegahan yang ditampilkan pada album ini, saya justru jatuh cinta pada track nomor empat, “Icarus”. Lagu ini sebenarnya punya muatan paling ringan dan minimalis. Magisnya ada pada vokal yang sangat dreamy sehingga membuat saya merasa sedang menelan obat tidur berbentuk suara. Ditambah spoken word di akhir lagu, menjadikan “Icarus” track favorit saya.
Namun, jika harus memilih lagu yang paling menggambarkan Seaside sebagai entitas lama yang bertransformasi, saya akan memilih dua lagu. “Same Old/Same New” saya anggap sebagai perwakilan era baru, sedangkan “Nothing and Everything” menjadi identitas Seaside. Selain itu, saya juga ingin memberikan kredit pada lagu “Cul-de-sac”, yang berkolaborasi dengan Henry “Batman” Foundation, sebagai lagu berbahasa Indonesia favorit saya di album ini.
Setelah mendengarkan seluruh track di album ini secara kontinu, saya merasa penantian panjang ini tidak sia-sia. Perjumpaan terakhir saya dengan Seaside terjadi pada 2016 silam. Artinya, sudah kurang lebih sembilan tahun saya menunggu untuk melihat Seaside kembali.
Jika kalian tertarik mendengarkan album ini, saya sarankan untuk menikmatinya secara berurutan mulai dari track pertama, dengan menggunakan pemutar audio yang mumpuni. Dengan begitu, sound of sleeping medicine seperti yang saya sebutkan di awal bisa lebih terasa.
Akhir kata, saya ucapkan terima kasih kepada Seaside. Saya berharap tidak perlu menunggu sembilan tahun lagi untuk mendengar racikan berbahaya lain dari mereka.
Ditulis oleh Aditya Azka

