“NGGAK SEMUA WARNA ITU MEMPUNYAI MAKNA YANG SAMA”

Sebuah insight tentang lace code dalam scene punk era 70-an

Pada era 70-an, gerakan punk mulai menjadi arus utama di sebagian besar wilayah Amerika Serikat dan berbagai belahan dunia lainnya, termasuk Inggris, dengan band-band seperti Sex Pistols dan The Clash. Gerakan punk kemudian berkembang lebih besar hingga melahirkan berbagai sub-genre. Di dalamnya muncul kelompok-kelompok yang tetap punk, tetapi memiliki keterikatan dengan gerakan politik tertentu, juga kelompok yang mendukung kekerasan, baik dalam bentuk rasisme maupun kekerasan seksual.

Sepanjang abad ke-20, scene punk pada masa itu secara umum dipandang, sebagaimana digambarkan media, sebagai gerombolan “anarkis kelas menengah yang sok liar dari pinggiran kota.” Padahal, sebagian besar justru berasal dari keluarga kelas menengah hingga kelas atas.

Selain itu, terdapat pula beberapa perubahan dalam scene punk, salah satunya terkait warna tali sepatu (lace) yang mulai memiliki makna tertentu. Kode warna tali sepatu (lace codes) pada era 70-an dan seterusnya dapat ditelusuri kembali ke subkultur skinhead di Inggris pada akhir 1960-an dan 1970-an. Subkultur ini lahir dari gerakan pemuda kelas pekerja yang kemudian terpecah ke dalam berbagai jalur ideologi. Salah satu ideologi yang paling dikenal, sekaligus paling banyak disalahgunakan, adalah Nazisme.

Istilah lace code merujuk pada praktik mengenakan tali sepatu berwarna tertentu untuk menunjukkan afiliasi, ideologi, atau niat, yang paling sering diasosiasikan dengan subkultur punk dan skinhead. Praktik ini sering kali kontroversial dan kerap disalahpahami.

Seiring berkembangnya punk yang tumbuh berdampingan dengan sebagian elemen scene skinhead, punk tidak hanya menyerap unsur fesyen, tetapi juga simbolismenya. Sepatu boot Doc Martens yang ikonik, atau sepatu militer surplus, menjadi simbol yang sangat mudah dikenali. Begitu ikoniknya, hingga tali sepatu berwarna pun dijadikan pernyataan visual yang disengaja untuk mengekspresikan pandangan politik, keterkaitan dengan geng, atau keyakinan pribadi.

Lace code berfungsi sebagai bentuk komunikasi nonverbal, bagian dari estetika punk yang lebih luas, yang menggabungkan fungsi sekaligus pemberontakan. Sama halnya dengan patch, tindikan, atau kaus band, lace code menjadi bagian dari “bahasa scene.” Ia berfungsi sebagai bahasa sosial singkat untuk menyatakan keyakinan bersama, identitas, dan batasan di dalam komunitas tersebut.

Makna Warna dan Variasi Komunitas

Hal yang penting dicatat adalah makna warna tali sepatu bisa berbeda-beda tergantung daerah, waktu, dan komunitas. Perlu diingat juga, warna merah termasuk yang paling sering dipakai dan paling berpotensi menimbulkan salah paham. Berikut beberapa contoh penggunaan lace code:

  1. SHARP (Skinheads Against Racial Prejudice)

SHARP muncul pada akhir 80-an sebagai respons untuk merebut kembali identitas skinhead yang terlanjur dikaitkan dengan kaum supremasi kulit putih, terutama di Amerika Serikat dan Inggris. Mereka ingin menunjukkan bahwa skinhead tidak selalu berarti rasis atau neo-Nazi. Warna tali sepatu dijadikan media protes, baik secara damai maupun militan, melalui gaya berpakaian.

  • Kuning: simbol anti-rasisme, nilai utama SHARP.
  • Merah: mirip kuning, tetapi dianggap lebih militan dan antifasis.
  1. White Power Skinheads

Kelompok seperti Hammerskins dan Blood & Honour menggunakan warna putih dan merah untuk menunjukkan ideologi serta status mereka.

  • Putih: tanda kesetiaan terhadap supremasi kulit putih.
  • Merah: lebih ekstrem, melambangkan bahwa seseorang telah “menumpahkan darah,” yaitu pernah melakukan kekerasan rasial.
  1. Anti-Racist Action (ARA) / Antifa Punks

Di scene ini, lace code adalah bagian dari aktivisme jalanan, terutama pada tahun 90-an. Warna yang mereka gunakan punya makna politis sekaligus solidaritas.

  • Merah: lambang ideologi kiri, seperti komunisme atau sosialisme.
  • Hitam: simbol militansi atau ketegasan, juga digunakan untuk menghindari kebingungan dengan kelompok lain yang memakai merah.
  • Kuning: sama seperti SHARP, tanda anti-rasisme.
  1. Oi! Punks / Traditional Skinheads

Awalnya subkultur ini tidak politis, tetapi seiring waktu tetap terpengaruh oleh kondisi sosial maupun musik.

  • Putih: awalnya sekadar gaya, namun setelah digunakan kelompok supremasi kulit putih, akhirnya menjadi stigma dan jarang dipakai.
  • Hitam: tanda netral, tidak terafiliasi dengan politik atau geng.
  • Biru: dikaitkan dengan kebanggaan kelas pekerja.
  1. Hardcore Crews

Crew-crew seperti DMS (Doc Marten Skins) dan FSU (Friends Stand United) menggunakan lace code untuk menandai afiliasi atau “nama jalan,” terutama di kota-kota besar Amerika pada 90-an.

  • Merah: tanda siap berkelahi atau membela crew.
  • Hitam: gaya tough, menunjukkan keberadaan di scene hardcore, genre punk yang lebih keras dari punk biasa.
  • Putih: sering menimbulkan salah paham. Kadang dianggap rasis, kadang tidak, sehingga banyak yang menghindarinya.
  1. Queercore / LGBTQ+ Punks

Dalam scene queercore, lace code dipakai untuk merebut ruang dalam dunia punk yang maskulin dan kadang toksik. Warna-warna yang diambil dari bendera LGBTQ+ dipakai untuk menunjukkan identitas dan perlawanan.

  • Pink & Ungu: simbol sikap individu dalam komunitas Queercore.
  • Hijau: terkait dengan queerness radikal dan eco-anarkisme, yakni perpaduan perjuangan queer dengan isu lingkungan.
  1. Crust Punks / Anarcho-Punks

Bagi mereka, lace code lebih merupakan simbol ideologi visual ketimbang alat identifikasi. Gaya mereka cenderung DIY, acak, atau sengaja berantakan, sejalan dengan semangat anarkis.

  • Hitam: simbol anarkisme atau pandangan nihilistik.
  • Merah: perlawanan terhadap fasisme, sekaligus simpati terhadap komunisme.
  • Hijau: terkait dengan anarkisme lingkungan, ideologi yang ingin “menyelamatkan bumi tanpa penguasa dan tanpa polusi.”

Kontroversi dan Penurunan Penggunaan

Penggunaan lace code sering menimbulkan kebingungan, asumsi keliru, bahkan kepanikan moral. Hal ini terutama karena praktik tersebut diadopsi kelompok ekstremis kekerasan. Misalnya, tali sepatu merah yang dalam komunitas Hardcore Punk berarti loyalitas terhadap kelompok, bisa juga diartikan bahwa pemakainya pernah melakukan kekerasan bermotif kebencian.

Karena itu, banyak punk masa kini enggan menggunakan lace code, baik karena maknanya tidak jelas maupun karena mereka menolak simbolisme yang bersifat tetap. Sayangnya, media arus utama dan aparat hukum kadang menyamakan semua kode warna dengan ekstremisme, sehingga memperkuat stigma terhadap komunitas punk dan skinhead, sekaligus menyederhanakan dinamika subkultur yang kompleks.

Belakangan, penggunaan lace code perlahan menghilang dan kini lebih sering dikenang sebagai bagian sejarah. Orang-orang bebas memakai tali sepatu berwarna apa saja tanpa takut disalahpahami. Meski sebagian besar orang sudah melupakan kode ini, beberapa komunitas di Amerika Serikat masih menerapkannya untuk menjaga keamanan dari prasangka buruk maupun ancaman kekerasan.

Kesimpulannya, kode warna tali sepatu adalah praktik yang kini nyaris terlupakan. Ia digunakan sejak era 1970-an hingga awal 2000-an sebagai bentuk simbolisme identitas dan pernyataan politik. Dalam beberapa kasus, lace code bahkan bisa menyelamatkan nyawa seseorang, terutama di tengah keberadaan kelompok ekstremis yang masih aktif.

Ditulis oleh: Achmad Bintang Sulaiman & Milda Anisatul Sofia